SUKUK DALAM PEREKONOMIAN ISLAM
Sukuk berasal dari
bahasa Arab yaitu shak ( (صكjamaknya shukūk
(صكوك) atau shikāk (صكاك) yang artinya dokumen atau
piagam. Dan juga bermakna percetakan atau menempa sehingga kalau dikatakan sakkan
nuqud bermakna pencetakan atau penempahan wang.
Dan ada juga yang
mendefenisikan sukuk berasal dari kata tawriq atau taskik. Tawriq
berasal dari kata al-wariq yang artinya dirham yang merupakan satu
proses di mana terjadinya pengumpulan aset-aset yang tidak cair dan
penjualannya untuk mendapatkan kemudahcairan. Dan taskik memberikan arti
bahawa satu proses pencatatan atas kepemilikan terhadapa aset sukuk tersebut.
Kata-kata shak, shukūk atau shikāk dapat ditelusuri dengan mudah pada literatur Islam
komersial klasik. Kata-kata tersebut terutama secara umum digunakan untuk
perdagangan internasional di wilayah muslim pada abad pertengahan, bersamaan
dengan kata hawalah (menggambarkan transfer pengiriman uang) dan mudharabah
(kegiatan bisnis persekutuan).
Akan tetapi, sejumlah penulis barat tentang
sejarah perdagangan Islam atau Arab abad pertengahan memberikan kesimpulan bahwa kata shak merupakan kata dari suara latin “cheque” atau check yang
biasanya digunakan pada perbankan kontemporer.
Accounting and auditing organization for
Islamic financial institutions (AAOIFI) mendefenisikan sukuk sebagai sijil yang mempunyai nilai yang sama,
yang mewakili dan membuktikan tanda penerimaan sijil tersebut dan menggunakannya sebagaimana yang telah dirancang, atau hak terhadap saham
atau aset ketara, manfaat dan perkhidmatan, atau ekuiti daripada satu projek
yang diberi atau ekuiti daripada aktiviti pelaburan tertentu, selepas selesai
proses pelangganan.
Sukuk atau islamic bon adalah
surat berharga sebagai instrumen investasi yang diterbitkan berdasarkan suatu
transaksi atau akad syariah yang melandasinya (underlying transaction),
yang dapat berupa ijarah (sewa), mudharabah (bagi hasil), musyarakah
atau akad syari’ah yang lain.
Sukuk yang sekarang sudah banyak diterbitkan
adalah berdasar akad sewa (sukuk ijarah) di mana hasil investasi berasal dan dikaitkan
dengan arus pembayaran sewa tersebut. Meskipun demikian, sukuk dapat pula
diterbitkan berdasar akad syariah yang lain.
Penerbitan instrumen investasi ini dapat
dipandang sebagai inovasi baru dalam keuangan syariah. Sukuk bukan instrumen utang piutang dengan
bunga (riba) seperti bon yang dikenal dalam keuangan konvensional, tetapi
sebagai instrumen investasi. Sukuk diterbitkan dengan suatu underlying asset
dengan prinsip syariah yang jelas.
Sukuk sangatlah penting dalam institusi
kewangan dan perbankan Islam. Sukuk merupakan solusi kewangan Islam terhadap
keharaman penggunaan bon konvensional. Bon konvesional yang dalam aplikasi yang
tidak bersesuaian dengan syari’ah tidak boleh dijadikan intrumen
kewangan dalam Islam. Oleh itu, dengan kemunculan sukuk dapat memberikan ruh
baru dalam kewangan dan perbankan Islam.



No comments:
Post a Comment